Skip to main content

Posts

Kuliah Online : Mandiri dalam Belajar

Akhirnya Surat Edaran Rektor kampus saya dikeluarkan untuk kesekian kalinya. Saya tak heran kalau kuliah online ini akan tetap berlanjut hingga saya semester 5. Percobaan kuliah online yang saya alami di semester 4 lalu sudah cukup membuat saya sedikit syok dengan Indeks Prestasi yang menurut saya B AJA :) (bersyukur, Ndah) Setelah saya terima hasil IP semester 4 lalu, saya mulai memutar otak untuk menyusun jadwal saya dengan lebih produktif tiap harinya di semester 5 ini. Saya juga membuat aturan-aturan seperti tidak bermain game hingga larut malam, berusaha untuk mencatat materi walau tangan ini tak bisa diajak kompromi atau stop scroll instagram seharian. Nyatanya saya tidak bisa, lebih tepatnya rasa malas saya mulai bertambah seiring berjalannya waktu. Saya pikir saya belum cukup sempurna beradaptasi dengan kuliah online ini. Padahal enaknya kuliah online buat kita lebih santai dan fleksible. Beberapa kali ikut kuliah online pada jam pagi saya tidak perlu buru-buru mandi dan ber...

Teman Kos

Saya yang notabenenya anak rantau dari luar sumbar merasa harus adaptasi lebih dengan lingkungan baru. Saya mulai kos di sini sejak awal agustus tahun lalu. Kebanyakan yang ngekos di sini masih dari daerah Sumbar, cuma saya dan satu personil baru dari Palembang yang dari luar Sumbar, bahasanya pun masih serumpun dengan bahasa hari-hari saya. Sebelumnya perkenalkan, saya biasa dipanggil Indah dan  sedang kuliah di Universitas Andalas jurusan Matematika Murni dan merasa salah jurusan (kebanyakan maba pasti bilang gini). Cita-cita awal pengin jadi musisi terkenal dan menjadi penulis buku bestseller di toko buku. Sempat terhalang oleh kehendak orang tua yang mengatakan “Kamu pengin jadi pengamen?”. Sial. Baiklah. Kali ini saya pengin ceritain seorang teman kos yang saya kenal sejak awal pindah ke kos-kosan ini. Sebut saja namanya T. Di antara anak kos lain, cuma dia yang seringkali ke kamar saya. Mulai dari minta hvs, minjam laptop,  minjem gunting kuku atau sekeda...

Penggoda Jalanan

Kurang lebih sudah dua minggu gue libur kuliah dan sekarang tersisa satu minggu lagi. Kontribusi untuk diri gue selama dua minggu itu bisa dikatakan nihil. Padahal sebelum gue caw dari kos tercinta, gue sudah buat beberapa point-point yang harus gue kerjakan dilibur semester, contohnya kaya olahraga tiap pagi. Gue pengen banget kurusin badan. Tapi gue flashback selama dua minggu belakangan, gaada tuh gue realisasikan, yang ada malah badan gue tambah melar. Cerita soal dua minggu belakangan, beberapa kali gue pernah digangguin om-om/abang-abang di jalan. Mereka dengan pedenya manggil gue dari belakang pas gue lagi bawa motor "Suit suittt. Adek" "dek. dek. oii dek. Minta nomer hpnya dong" terus pas gue noleh, dia malah diam membisu. Itu sangat sangat mengganggu konsentrasi gue dalam mengemudi karena dia memecah kefokusan gue. Hal itu pun membuat gue resah dan gelisah.  Beda lagi kalo gue dibonceng ama temen. Waktu itu lagi lampu merah, temen gue ...

Sedikit Cerita Lulus PTN

Apa yang sedang anda rencanakan di masa depan? Setelah mengetahui kabar tak satupun dari pilihan prodi saya lulus di SNM, saya pun berputar arah fokus SBMPTN. Saya memilih untuk ikut bimbel di awal tahun ketiga SMA saya karena saya merasa kurang mampu untuk belajar saat H-30 SBM. Saya mencoba mendaftar di bimbel yang selogannya "maju bersama Allah" dan mengikuti proses belajar mengajarnya. Memang pelajaran SBM dan pelajaran sekolah agak sedikit berbeda, tapi saya luangkan waktu lebih banyak untuk SBM. Bimbel yang saya ikuti waktu itu sedikit memberi saya motivasi untuk berani lagi memilih perguruan tinggi terbaik di pulau jawa, mereka juga memberikan sedikit saran dan masukan untuk melakukan amalan-amalan seperti puasa sunnah, sedekah dan sholat sunnah. Alhasil ibadah saya pun meningkat drastis. Manis sekali. Singkat cerita,  kejadian tak mengenakkan membuat strategi menjawab soal sbm yang saya persiapkan dari awal tahun ketiga SMA mungkin agaknya sia-sia. Secara tib...

Mukidi Patah Hati

Kedai Kopi Wak Jarot masih sepi pengunjung. Biasanya sore-sore begini banyak laki-laki desa ngopi atau sekedar beli udud disini. Di antara laki-laki desa itu, hanya Mukidi dan Doni yang selalu menjadi pelanggan setia Wak Jarot. "Kapan kamu nyatakan cinta pada Warni, Muk?" "Jangan tanya itu, aku belum siap" "Sekarang saja. Nanti kamu disalib Tarjo" "Diam kau. Jangan sebut nama bangsat itu di depan mukaku" Mukidi pun menenggak kopi hitam hingga ludes dan menyesap udud yang tinggal sebatang lagi. Doni hanya terdiam prihatin karena konconya tak juga beristri mengingat umur sudah menginjak kepala tiga, tapi masih membujang saja. Bukan tak ada wanita yang mau dengannya, tapi Mukidi terlalu mencintai Warni, Si Kembang Desa. Sudah bertahun-tahun Mukidi menyimpan rasa dengan Warni. Tapi, Warni tak tau menau dengan perasaan Mukidi. Warni mengira, Mukidi bersikap baik padanya karena mereka telah berteman sejak umur nol tahun. Faktanya, Warni ad...

Kehidupan Ini Sekelebat Monoton

Saya berbalik arah kembali ke meja resepsionis bimbel yang sedang saya timba ilmunya. Setelah sebelumnya saya mengira harus menyelesaikan pikiran-pikiran negatif saya mengenai makna hidup damai yang belakangan sangat mengganggu aktivitas sekolah. Malam tak menyurutkan saya untuk tetap menanyakan pertanyaan "kenapa hidup saya monoton? Kenapa saya selalu merasa biasa saja tiap harinya? dsb." Oh ya, tempat bimbel ini menyediakan konsultasi mengenai kejiwaan(haha setidaknya saya berpikir begitu) yang kebetulan pengajarnya (seorang pria umur 30-an) asik dan ngerti dengan anak zaman now. "assalamualaikum, kak" "waalaikumsalam, laah ko balik lagi? " "enggg, kak saya pengin nanya mengenai suatu hal" Kekurangan saya dari dulu tidak bisa berkomunikasi dengan jelas. Hal itu membuat saya bicara perlahan karena kebiasaan cuma dengerin omongan doang. "oh ya, boleh" Dari situ saya membuka percakapan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sang...

(Belom) Punya Katepe

Dua minggu yang lalu pak RT nelpon bokap nyuruh gue ke rumah beliau, katanya ada hal sepele yang pengen diomongin. Padahal, dua minggu lebih satu hari (15 hari yang lalu) gue nanyain ke nyokap bagaimana sebenarnya nasib identitas gue sebagai warga negara Indonesia, gue ngerasa digantungin, antara WNI atau WNII (warga negara Indonesia yang illegal) a.k.a gue belom punya KTP disaat umur yang sudah dilegalkan untuk nonton adegan kissing drama korea. Gue       : "Mah, buat katepe kapan? Indah udah delapanbelas tahun -_-" Nyokap : "Nanti, ya, kalo ada waktu senggang" Gue       : "Indah tuh pengen nyoblos 2019 nanti, mah." Nyokap : "Iya, sabar." ------- Setelah gue ngomong gitu, besoknya bokap bilang di telpon, Bokap  : "Indah nanti malem kerumah Om RT, ya"   Saat itu memang sudah malem karena gue belom pulang dari pagi tadi, yahh biasa lah sibuk nykolah. Gue pun nanyain ada apa Pak RT nyuruh gue kerumahnya, tanpa basa ...